Menjelajah Dunia dari Busan: Kisah Nasywa Mahasiswa Teknologi Pendidikan di Pukyong National University

Empat bulan bukanlah waktu yang pendek ketika dijalani di negeri orang. Bagi Nasywa Aliyah Syafira, semester musim gugur 2025 di Pukyong National University (PKNU), Busan, Korea Selatan, adalah babak yang menampar serta membentuk dirinya sekaligus secara akademis, kultural, dan personal. Nasywa terpilih sebagai penerima beasiswa Global Korea Scholarship (GKS) for Exchange Student, sebuah program bergengsi yang disponsori pemerintah Korea Selatan untuk mendukung mobilitas mahasiswa internasional. Program berlangsung selama empat bulan, September hingga Desember 2025, di salah satu universitas negeri terkemuka di Korea bagian selatan, sekaligus kota pelabuhan terbesar kedua di negeri ginseng tersebut.

Sebagai penerima beasiswa GKS, mengikuti kelas Bahasa Korea adalah kewajiban yang justru menjadi salah satu pengalaman paling berharga bagi Nasywa. Di kelas ini ia mempelajari percakapan sehari-hari, membaca aksara Hangul, dan menyelami budaya serta kebiasaan masyarakat Korea dari sumber yang paling otentik para pengajar lokal dan sesama mahasiswa Korea. Tak kalah relevan adalah mata kuliah English for Content Online. Mata kuliah ini linier dengan bidang studi Nasywa, Teknologi Pendidikan. Di sini ia belajar merancang dan menyusun konten digital dalam bahasa Inggris untuk kebutuhan pembelajaran maupun media online sebuah kompetensi yang semakin krusial di era pendidikan global. Bagi Nasywa, kelas ini membuka cakrawala tentang bagaimana konten edukatif dapat dikembangkan melampaui batas-batas lokal.    

Awal semester diisi dengan orientasi mahasiswa internasional yang diselenggarakan oleh PKNU. Agenda ini memperkenalkan sistem perkuliahan, aturan akademik, serta fasilitas kampus landasan penting agar Nasywa dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan yang sama sekali baru. Dari sini pula ia mulai membangun jaringan pertemanan yang sesungguhnya berharga. Dalam proses belajar sehari-hari, diskusi dan tugas kelompok bersama mahasiswa dari berbagai negara menjadi arena latihan komunikasi yang tidak ternilai. Kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat secara organik, sementara kapasitasnya untuk memahami beragam sudut pandang berkembang menjadi salah satu soft skill yang paling ia syukuri dari program ini. 

Kehidupan akademik Nasywa tidak berhenti di ruang kuliah. Ia aktif mengikuti kegiatan kampus, salah satunya Sport Day yang diselenggarakan oleh Office of International Affairs PKNU sebuah ajang yang mempererat hubungan antarmahasiswa internasional dari berbagai penjuru dunia dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan. Momen berkesan lainnya adalah field trip ke Gyeongju, kota yang dijuluki "museum tanpa atap" karena kekayaan situs sejarah dan peninggalan Dinasti Silla yang tersebar di seluruh penjurunya. Pengalaman ini memberikan dimensi baru dalam pemahaman Nasywa tentang warisan budaya Korea — tidak hanya dari buku teks, tetapi dari pengamatan langsung.

Nasywa pulang bukan dengan tangan kosong. Ia membawa bekal percaya diri yang lebih kokoh, jaringan internasional yang nyata, serta visi yang lebih tajam tentang kontribusinya di dunia Teknologi Pendidikan. Ia berharap pengalaman ini menjadi katalis untuk membuka lebih banyak peluang kerja sama global di bidangnya. Nasywa ingin kisahnya menjadi inspirasi kepada mahasiswa Teknologi Pendidikan dan mahasiswa UNY pada umumnya. Kepada mahasiswa-mahasiswi yang masih ragu untuk mendaftar program exchange, ia ingin menyampaikan satu pesan sederhana: beranilah mencoba. (Nay-GP)