Praktik Kependidikan: Merangkai Goresan dan Cerita 100 Penyandang Disabilitas untuk Mendukung SDG-10 (Reduce Inequalities)

Yogyakarta. Rabu, 16 September 2026, kegiatan Membatik Bersama 100 Penyandang Disabilitas dilaksanakan di Pendapa Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan peserta dari empat kabupaten dan satu kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan beragam jenis disabilitas, seperti daksa, cerebral palsy, polio, rungu wicara, tunagrahita, tunalaras, low vision, hingga autisme. Dalam pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di Dinas Sosial DIY, Nur Nafisah Ramadhani, mahasiswa Teknologi Pendidikan UNY, turut beperan dalam peliputan dan pengembangan konten kegiatan. Hasil liputan kemudian dikembangkan menjadi informasi digital yang menampilkan pengalaman, Kesan, pesan, serta harapan peserta. Kegiatan ini sejalan dengan SDG 10 (Reduced Inequalities), khususnya upaya mendorong inklusi sosial penyandang disabilitas.

Dalam kegiatan liputan dilakukan pengambilan foto dan video serta wawancara dengan peserta untuk mengetahui lebih dalam pengalaman dan pandangan peserta selama mengikuti kegiatan. Salah satu peserta juga menyampaikan pesannya menggunakan bahasa isyarat sebagi bentuk  diberikanya ruang untuk bersuara, sehingga pengalaman dan pandanganya dapat disampaikan secara langsung. Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang turut menorehkan canting bertuliskan “AB (Ability)” sebagai simbol kemampuan penyandang disabilitas. Berbagai hasil liputan tersebut kemudian diolah menjadi video rekap yang tidak hanya menampilkan rangkaian kegiatan membatik, tetapi juga membawa pesan bahwa disabilitas bukanlah hambatan untuk berpartisipasi dan berkarya.

Bagi mahasiswa, pengembangan video tersebut menjadi bagian dari penerapan kompetensi Teknologi Pendidikan dalam mengolah dan mengomunikasikan informasi melalui media. Video hasil kemudian dipublikasikan melalui media sosial resmi Dinas Sosial DIY sehingga pengalaman dan suara peserta dapat disampaikan kepada masyarakat dengan penyajian yang lebih komunikatif. Konten tersebut turut menghadirkan penyandang disabilitas sebagai individu yang aktif berpartisipasi, berkarya, dan menyampaikan pandangannya. Hal ini sejalan dengan semangat SDG 10 dalam mendorong inklusi sosial bagi semua, termasuk penyandang disabilitas.

Melalui peliputan dan pengembangan konten tersebut, informasi mengenai kegiatan serta pengalaman peserta diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Penyajian pengalaman peserta secara langsung juga diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan berkarya, dan bersuara. Oleh karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini tidak hanya menghasilkan dokumentasi, tetapi juga mengubah hasil liputan menjadi informasi yang dapat membawa pesan inklusivias kepada masyarakat luas (NNR)

Tags: