- Alamat : Kampus Karangmalang, Yogyakarta, 55281
- Telp. (0274) 547780 psw 1343
- website : http://tp.fip.uny.ac.id
- e-mail: ktpfip@uny.ac.id
Bahasa Indonesia
English

Fukuyama, Jepang.Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan “Cross-Cultural Learning through Local Wisdom-Based Media Training in Japan” di Fukuyama University, Jepang, pada 24–26 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran lintas budaya sekaligus memperkuat kolaborasi akademik antara Universitas Negeri Yogyakarta dan Fukuyama University. Tim PkM terdiri atas Dr. Suyantiningsih, M.Pd., Ariyawan Agung Nugroho, dan Muhammad Ihsaan Fathoni. Kegiatan diikuti oleh 43 peserta dalam interaksi akademik selama pelaksanaan program.
Program ini berangkat dari gagasan bahwa kearifan lokal tidak harus ditempatkan sebagai materi atau mata pelajaran tersendiri, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai konteks yang memperkaya proses pembelajaran. Melalui pendekatan tersebut, pendidik dan calon pendidik didorong untuk mengidentifikasi unsur budaya dan lingkungan di sekitar mereka, menghubungkannya dengan konteks pembelajaran, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan media pembelajaran.Dalam kegiatan tersebut, tim UNY, dari Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, memperkenalkan sejumlah contoh dari konteks Yogyakarta, seperti batik, gamelan, dan lingkungan Merapi, untuk memperlihatkan kemungkinan integrasi kearifan lokal dalam pengembangan media. Contoh tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadikan budaya Yogyakarta sebagai materi utama pembelajaran, melainkan sebagai pemantik bagi peserta untuk mengeksplorasi kearifan lokal dari lingkungan mereka sendiri.
Menariknya, pelaksanaan kegiatan berkembang menjadi proses pembelajaran dua arah. Dalam diskusi bersama mitra Jepang, ditemukan bahwa unsur budaya dan konteks lokal juga menjadi perhatian dalam berbagai bentuk pengembangan media di Jepang, antara lain pada game, cerita, gambar, serta ilustrasi rumah.Dengan demikian, kegiatan yang pada awalnya membawa pengalaman Indonesia ke Jepang berkembang menjadi pertukaran pengetahuan yang resiprokal antara Indonesia dan Jepang. Kedua pihak tidak hanya berbagi pengalaman mengenai pengembangan media, tetapi juga merefleksikan bagaimana budaya dan lingkungan lokal dapat menjadi sumber belajar yang relevan.
Teknologi Menjembatani Perbedaan Bahasa
Salah satu tantangan yang cukup menonjol selama kegiatan adalah perbedaan bahasa. Interaksi antara tim Indonesia dan peserta Jepang tidak selalu dapat dilakukan secara langsung menggunakan satu bahasa yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut, kegiatan memanfaatkan aplikasi translasi secara real-time dalam presentasi maupun diskusi. Pemanfaatan teknologi ini membantu peserta dan tim untuk tetap berkomunikasi dan bertukar gagasan meskipun terdapat keterbatasan bahasa.Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi pendidikan tidak hanya dapat berfungsi sebagai sarana penyampaian pembelajaran, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi dalam lingkungan belajar lintas budaya. Penerimaan peserta terhadap kegiatan secara umum juga terlihat positif melalui keterlibatan mereka dalam aktivitas, diskusi, dan eksplorasi gagasan. Sebagai bagian dari evaluasi program, peserta diberikan instrumen untuk memberikan respons terhadap pelaksanaan kegiatan, dengan sekitar 24 peserta berkenan memberikan respons evaluatif.
Mendukung SDG 4: Quality Education
Pelaksanaan program memiliki relevansi dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education, khususnya dalam upaya mendorong pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.
Melalui workshop ini, kearifan lokal ditempatkan sebagai salah satu sumber untuk memperkaya desain pembelajaran dan pengembangan media. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong pendidik dan calon pendidik untuk tidak hanya menggunakan teknologi dalam pembelajaran, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial dan budaya peserta didik ketika merancang pengalaman belajar.
Kegiatan juga memberikan ruang bagi calon pendidik untuk melihat bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Lingkungan, budaya, cerita, nilai, dan praktik masyarakat di sekitar peserta didik dapat menjadi sumber untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual.
Memperkuat SDG 17 melalui Kemitraan Indonesia–Jepang
Selain mendukung pendidikan berkualitas, program ini secara kuat berkaitan dengan SDG 17: Partnerships for the Goals.Kolaborasi UNY dan Fukuyama University tidak berhenti pada pelaksanaan workshop. Kegiatan ini turut memperkuat hubungan kelembagaan melalui Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Arrangement (IA) sebagai landasan pengembangan kerja sama selanjutnya.Kemitraan tersebut membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan media dan teknologi pendidikan, serta pertukaran akademik antara Indonesia dan Jepang.Program ini juga menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat berkembang dari aktivitas yang konkret dan dekat dengan praktik pendidikan. Pertemuan antara pengalaman lokal Indonesia dan Jepang justru menjadi ruang untuk menghasilkan pemahaman bersama serta membuka peluang kolaborasi yang lebih berkelanjutan.
Kearifan Lokal sebagai Jembatan Pembelajaran Lintas Budaya
Secara lebih luas, kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan semangat SDG 11: Sustainable Cities and Communities, terutama dalam penghargaan terhadap budaya dan warisan lokal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang dapat terus dikenali dan dimaknai oleh generasi berikutnya. Melalui media pembelajaran, unsur kearifan lokal tidak hanya diposisikan sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan, tetapi juga dapat diinterpretasikan, dikontekstualisasikan, dan digunakan sebagai sumber pembelajaran.Pengalaman pelaksanaan PkM di Fukuyama menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi titik temu dalam pembelajaran lintas budaya. Apa yang pada awalnya dirancang sebagai kegiatan pengembangan media berbasis kearifan lokal berkembang menjadi ruang bagi Indonesia dan Jepang untuk saling berbagi, merefleksikan konteks masing-masing, dan belajar bersama.Kegiatan ini membawa pesan bahwa kearifan lokal dapat menjadi jembatan antara pendidikan, teknologi, budaya, dan kemitraan internasional menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan berkelanjutan. (hox)
Copyright © 2026,